Biaya pengobatan korban MBG akan ditanggung pengelola SPPG Soditan, termasuk pasien yang menjalani rawat jalan maupun perawatan di rumah sakit.
Biaya pengobatan korban MBG menjadi tanggung jawab pengelola SPPG Soditan. Kebijakan tersebut berlaku setelah 777 warga SMAN 1 Lasem mengalami gejala gangguan kesehatan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Fahrudin memastikan pengelola menanggung biaya pengobatan para korban. Pembiayaan mencakup layanan rawat jalan hingga perawatan di rumah sakit.
Dengan demikian, korban tidak perlu menanggung biaya perawatan terkait kejadian tersebut. Pemerintah Kabupaten Rembang menyampaikan kepastian itu bersamaan dengan langkah evaluasi terhadap dapur SPPG.
Biaya Pengobatan Korban MBG Mencakup Rawat Jalan
Di lapangan, penanganan korban berlangsung melalui sejumlah fasilitas kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mencatat 21 siswa mendapat penanganan di Puskesmas Lasem.
Lima siswa menjalani rawat inap karena mengalami muntah dan diare berulang. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan dehidrasi sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, 16 siswa lainnya memperoleh layanan rawat jalan. Selain itu, dua siswa mendapat layanan serupa di Puskesmas Pancur.
Satu siswa lainnya menjalani penanganan dari dokter praktik mandiri di wilayah Lasem. Data tersebut menunjukkan variasi kebutuhan medis korban.
Gejala Korban Didominasi Mual dan Diare
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Rembang Ali Syofii, mayoritas korban mengalami gangguan pencernaan. Keluhan yang banyak muncul berupa mual, muntah, dan diare.
Korban dengan gejala ringan dapat menjalani pemulihan di rumah. Namun, warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut mendapat layanan fasilitas kesehatan terdekat.
Secara faktual, kejadian tersebut berdampak pada 777 warga sekolah. Jumlah itu terdiri dari 752 siswa serta 25 guru dan tenaga tata usaha.
SPPG Soditan Dievaluasi Setelah Kasus di Lasem
Di sisi lain, Pemkab Rembang menghentikan sementara operasional dapur SPPG Soditan mulai Sabtu, 5 September 2026.
Fahrudin mengatakan penghentian tersebut bertujuan mengevaluasi proses pengolahan makanan. Pemerintah juga akan mengkaji penanganan selanjutnya terhadap dapur penyedia makanan.
Kasus ini masih dalam penyelidikan Dinas Kesehatan Rembang. Petugas mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan kimia dan bakteriologis.
Menu MBG yang siswa konsumsi pada Rabu, 2 September 2026 terdiri dari nasi, ayam bakar, lalapan, dan semangka.
Yang jadi sorotan, petugas menemukan sebagian ayam memiliki tekstur yang kurang baik. Meski begitu, Ali menegaskan temuan tersebut masih berupa hipotesis awal.
Karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami warga SMAN 1 Lasem.

